Informasi di blog ini hanyalah sekedar untuk tujuan informatif yang bersifat umum, Silahkan konsultasikan penyakit dan keluhan kesehatan Anda kepada ahlinya

Jangan Makan Ikan Asin Berbahan Pengawet

Bagi orang dewasa, menikmati sajian nasi putih ditambah sambal terasi dan lalapan segar terasa kurang lengkap tanpa ikan asin. Ikan asin memang menambah selera makan. Ikan tidak hanya disukai orang dewasa dan orangtua saja, tapi juga anak-anak karena rasanya yang gurih.

Namun, mengkonsumsi ikan asin yang memiliki bahan pengawet atau mengandung Nitrosamines (zat penyebab kanker, Red), memicu kanker nasofaring. Masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi ikan asin di usia kanak-kanak terbukti beresiko lebih tinggi terkena penyakit kanker Nasofaring dibandingkan yang tidak mengkonsumsi. Nitrosamines bisa terbentuk sebagai akibat proses pengasinan (salting) ikan yang memakai garam bermutu rendah dan berharga murah.

Kangker satu ini ditandai dengan gejala telinga yang seringnya telinga berdengung dan terasa penuh pada satu sisi tanpa disertai rasa sakit, sehingga pendengaran jadi berkurang. Kangker satu ini diklaim sebagai kanker terganas nomor empat setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker kulit.

Dr Budianto Komari, Sp THT, spesialis onkologi THT (telinga-hidung-tenggorok), mengatakan, konsumsi ikan asin secara terus-menerus dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu lama, bisa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kanker nasofaring. Kanker nasofaring merupakan kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring yang berada di rongga belakang hidung dan di belakang langit-langit rongga mulut. “Karena letaknya yang berdekatan, membuat penyebaran virusnya menjadi mudah terjadi. Misalnya, virus ini dapat menyebar pada bagian mata, telinga, kelenjar leher, dan otak,” kata Budianto.

Menurut Budianto, penderita harus mengenali gejala dini dari penyakit tersebut. Sebab, lanjut dia, dengan mengetahui gejala dini dari kanker nasofaring, kemungkinan besar seseorang untuk sembuh akan terbuka lebar dibandingkan dengan penderita yang sudah memasuki gejala lanjut. Pada gejala dini kanker nasofaring bisa berupa mimisan pada hidung yang terus berulang, ingus bercampur darah, hidung tersumbat terus-menerus, dan pilek pada satu sisi saja. “Deteksi dini dapat dilakukan dengan cara memeriksakan diri ke dokter bila mengalami keluhan pada telinga dan hidung. Penderita harus sering-sering memeriksakan THT-nya,” ujar Budianto.

Untuk gejala lanjut, dapat diketahui dari kelenjar getah bening leher yang membesar, nyeri dan sakit kepala, pada mata terjadi penglihatan ganda, juling dan kelopak mata menutup pada sisi yang terkena virus tersebut. Secara umum, gejala dari kanker nasofaring ini ada empat, yakni gejala dapat dirasakan pada bagian hidung, telinga, mata, dan saraf, terakhir adalah pada bagian penyebaran di leher.

Kanker nasofaring sendiri hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Namun, penyembuhan atau pengobatan kanker nasofaring dapat dilakukan dengan menjalani radioterapi dan kemoterapi.
Dalam menjalani pengobatan, penderita bisa membutuhkan waktu kurang lebih lima tahun. Penyakit kanker mematikan yang berada di belakang tenggorokan dan seringkali terlambat didiagnostik sehingga sulit untuk disembuhkan melalui metode penyinaran dan kemoterapi itu lebih banyak dijumpai pada warga berusia 40-50 tahun.

“Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menciptakan pola hidup dan lingkungan yang sehat, mengurangi konsumsi makan yang memakai pengawet, dan menghindari polusi udara,” sarannya.
Menyoal makan ikan asin, seorang ibu rumah tangga mengaku sangat khawatir terhadap anaknya, yang terbiasa mengonsumsi ikan asin. Ini karena anaknya sangat menyukai ikan asin. “Anak saya lebih suka ikan asin dari pada ikan lain atau ayam. Kalau sudah makan ikan asin goreng, makannya pasti banyak,” katanya
Diakui Mita, ia sering memasak ikan asin untuk keluarganya, khususnya untuk anaknya Dino. Sebab, Dino tidak akan mau makan bila tidak ada ikan asin goreng yang garing. Secara pribadi, Mita sendiri tidak pernah tahu mengenai bahayanya ikan asin tersebut.

“Tapi repot juga kalau sudah begini. Karena tak mudah untuk mengubah kebiasaan makan anak saya,” pungkasnya. (del)
———-

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru di inbox anda:

Delivered by FeedBurner

Related Posts with Thumbnails