Informasi di blog ini hanyalah sekedar untuk tujuan informatif yang bersifat umum, Silahkan konsultasikan penyakit dan keluhan kesehatan Anda kepada ahlinya

MENGAPA DAN BAGAIMANA JIKA PLASENTA MENGALAMI PENGAPURAN

SEKILAS, kandungan Imelda yang kini berusia 8 bulan tampak sehat-sehat saja. Tapi mengapa berat janin tidak bertambah sesuai usia kehamilan? Padahal Imelda rajin minum susu khusus ibu hamil sejak awal kehamilan, termasuk mengikuti senam hamil dan jalan pagi meski tidak setiap hari.

Selidik punya selidik, ternyata plasenta dalam kandungannya mengalami pengapuran. Mulanya Imelda tak percaya dengan hasil pemeriksaan dokter. Namun, setelah diperiksa ulang ternyata memang benar ada kelainan pada plasenta. Berbahayakah efeknya bagi janin?

Pengapuran Plasenta = Deposit Kalsium

Apa itu pengapuran plasenta? Pengapuran pada plasenta merupakan tanda menuanya plasenta yang bisa dilihat saat pemeriksaan USG. Akan tampak seperti bintik putih yang tersebar dari dasar plasenta hingga permukaannya.

Pengapuran plasenta sebenarnya deposit kalsium, akibat pecahnya pembuluh darah kecil yang pecah sehingga terjadi penimbunan kalsium. Bila terjadi pada trimester ketiga usia kehamilan, pengapuran plasenta masih dianggap normal. Dapat berbahaya jika terjadi pengapuran pada awal kehamilan.

Deposit ini bisa menyebabkan jaringan plasenta yang ditempatinya menjadi jaringan ikat. Deposit ini juga bisa menyumbat pembuluh darah di plasenta. Bukan tidak mungkin, malfungsi plasenta ke janin menjadi buruk. Pun asupan nutrisi dan oksigen yang semustinya diterima janin menjadi terhambat.

Derajat Kematangan Pengapuran

Pengapuran tersebut diklasifikasikan dengan derajat maturasi (kematangan) plasenta dan ini berkaitan dengan kondisi kesehatan ibu, janin, dan plasenta itu sendiri. Derajat maturasi ini tidak berkaitan dengan umur kehamilan. Pada kehamilan 41 minggu merupakan hal yang normal bila terdapat gambaran derajat maturasi III.

Jangan panik dulu, kalsifikasi plasenta sendiri secara USG dikategorikan menjadi 4 grade. Grade : 0 = tidak ditemukan kalsifikasi; 1 = terlihat sedikit gambaran kalsifiksisi; 2 = ditemukan dengan mudah kalsifikasi setengah lingkaran dan grade 3 = banyak ditemukan kalsifikasi berbentuk lingkaran.

Jika terjadi kalsifikasi plasenta grade 3 pada trimester II, perlu mendapat perhatian. Biasanya untuk kasus seperti ini dilakukan pemantauan secara berkala terhadap pertumbuhan bayi untuk memastikan tidak adanya gangguan pertumbuhan.

Akibat Rokok dan Stres?

Moms yang memiliki kebiasaan merokok dapat memengaruhi timbulnya pengapuran plasenta. Pasalnya rokok mengandung nikotin dan dapat menyebabkan kerusakan dimana pembuluh darah akan menyempit. Akibatnya suplai oksigen ke janin menjadi terhambat. Perkembangan janin pun ikut terhambat.

Apalagi, bila Moms mengalami stres karena ada hormon stres (cortisol) yang keluar yang bisa menyebabkan pembuluh darah menjadi kecil, menyempit, daya tahan tubuh (imunitas) juga menurun. Namun ini hanya kemungkinan, karena sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebabnya.

Dampak yang Terjadi

Bila aliran darah dan kondisi plasenta tidak berfungsi optimal sebagaimana mestinya tentu pertumbuhan janin jadi terhambat. Bila pertumbuhan janin terhambat di awal kehamilan, biasanya janin terlihat lebih kecil, jumlah sel juga tidak sebanyak jumlah sel pada bayi-bayi normal.

Perlu diketahui, proses pertumbuhan bayi ada dua fase, yakni fase pembentukan sel (hiperfasi), kemudian fase pembesaran sel (hipertropi). Bila gangguan seperti pengapuran plasenta terjadi pada awal kehamilan, tentu fase pembentukan sel menjadi terhambat.

Tip Sehat ala BuMil

Pengapuran plasenta memang tak bisa diduga datangnya. Yang bisa Moms lakukan adalah menjaga kondisi kehamilan sebaik mungkin, antara lain:
  1. Hindari makanan yang mengandung bahan pengawet atau penyedap rasa.
  2. Makanlah makanan yang sehat seperti sup, sayur bayam atau masakan lainnya yang terbuat dari bahan-bahan pilihan. Pun saat mengonsumsi buah-buahan atau daging atau ikan, pilihlah yang masih segar. Makanan yang sehat tak harus mahal loh!
  3. Lakukan olahraga meski tidak setiap hari. Bila perlu ikutilah program senam hamil.
  4. Hindari rokok.
  5. Hindari stres selama hamil.
  6. Istirahat yang cukup.
  7. Tak kalah pentingnya, rajin-rajinlah berkunjung ke dokter Anda selama hamil guna memantau ada gangguan atau kelainan selama hamil.



(Mom& Kiddie//ftr)

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru di inbox anda:

Delivered by FeedBurner

Related Posts with Thumbnails