Informasi di blog ini hanyalah sekedar untuk tujuan informatif yang bersifat umum, Silahkan konsultasikan penyakit dan keluhan kesehatan Anda kepada ahlinya
loading...

Osteoporosis, Diam-diam Mencuri Tulang



Osteoporosis atau kerapuhan tulang ternyata berdampak serius. Betapa tidak, sekadar jatuh terpeleset di lantai pun bisa membuat tulang panggul patah dan menyebabkan kelumpuhan. Belum lagi risiko rasa nyeri di seluruh bagian tubuh.

Hal pertama yang menyadarkan Dewie Darmawan (53) terhadap gangguan pada tulangnya adalah rasa nyeri dan pegal-pegal yang makin sering dideritanya. Hal itu terjadi delapan tahun lalu.

"Pada awalnya saya tidak menyadari kalau rasa kaku pada sendi juga nyeri yang sering dialami disebabkan oleh tulang saya mulai keropos," paparnya.

Menurut dokter yang memeriksa, salah satu faktor risiko yang menyebabkan ia menderita osteopeni adalah karena menopause dini akibat rahimnya yang diangkat karena perdarahan di tahun 1997 yang dialaminya.

"Setelah didiagnosis osteopeni saya diminta mengonsumsi kalsium dan juga hormon estrogen untuk mencegah osteoporosis," paparnya.

Secara berkala Dewie juga melakukan senam osteoporosis dan latihan beban dua kali dalam seminggu. "Kalau saya malas latihan badan kembali kaku dan terasa nyeri kembali," ujar wanita yang sudah menderita osteopeni selama 8 tahun terakhir.

Osteoporosis atau pengeroposan tulang merupakan proses alami pada perempuan terutama setelah menopause. "Penyakit ini ditandai dengan penurunan kepadatan massa tulang sehingga tulang menjadi tipis, rapuh, dan mudah retak atau patah," papar dr.Siti Annisa Nuhonni, SpRM, dalam acara media edukasi bertajuk Osteoporosis Mengincar Perempuan Usia Produktif yang diadakan oleh Fonterra Brands Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Pada orang-orang yang kurang asupan kalsium sejak muda, kata Nuhonni menjelaskan, risiko osteoporosis makin tinggi setelah usia 65 tahun. Demikian juga orang yang bertubuh kurus, punya sejarah keluarga ibunya pernah mengalami patah tulang akibat osteoporosis, berhenti haid dalam waktu lama, menopause dini, atau menggunakan obat kortikosteroid lebih dari enam bulan.

Hal tersebut diperparah oleh gaya hidup yang menghindari sinar matahari karena takut hitam, tidak minum susu, dan kurang bergerak. Rokok, kopi, makanan tinggi garam dan alkohol juga meningkatkan risiko osteoporosis.

Diam-diam

Osteoporosis, papar Nuhonni, sering disebut sebagai silent disease karena tidak adanya gejala, baik saat masih osteopeni (penipisan) atau setelah osteoporosis (keropos).

"Proses kerapuhan tulang sering tidak disadari. Kalaupun ada tulang retak hanya terasa sebagai nyeri dan hilang setelah 4-6 minggu. Apalagi ambang nyeri orang Indonesia tinggi. Osteoporosis baru disadari jika ada tulang yang patah," papar ahli rehabilitasi medik dari FKUI/RSCM ini.

Osteoporosis merupakan penyakit degeneratif, bisa dibilang setiap wanita yang sudah menopause beresiko menderita penyakit ini walau tidak tertutup kemungkinan mereka yang masih muda juga terkena akibat gaya hidup yang salah.

Dalam analisa kepadatan tulang yang dilakukan Fonterra Brands di Asia terungkap bahwa perempuan Indonesia memliki tingkat risiko tertinggi di Asia, yakni berkisar di usia 25-65 tahun," kata Vienno Monintja, category marketing director Fonterra Brands, dalam kesempatan yang sama.

Hasil analisa tersebut sejalan dengan data Internasional Osteoporosis Foundation (IOF) tahun 2009 yang menyebutkan rata-rata asupan kalsium orang Asia masih rendah, yakni hanya 450 mg dari 1.300 mg yang dibutuhkan setiap hari.

Selain itu, banyaknya jumlah penduduk usia lanjut juga memberikan kekhawatiran munculnya masalah osteoporosis di tahun 2050. Tahun 2005 jumlah orang usia lanjut Indonesia ada 17 juta jiwa. Diperkirakan pada tahun 2050 jumlah orang usia lanjut meningkat menjadi 70 juta jiwa.

Karena itu, bisa diperkirakan berapa banyak orang lanjut usia yang akan mengalami patah tulang. Hal ini akan menimbulkan beban ekonomi maupun sosial bagi masyarakat.

Cukupi kalsium Namun, osteoporosis bisa dicegah. Pencegahan terbaik adalah "menabung" massa tulang sejak dini, yaitu saat janin dalam rahim, usia balita, serta saat pertumbuhan di masa kanak-kanak dan remaja.

Menurut dr.Fiastuti Witjaksono, Sp.GK, menabung tulang tidak hanya memerlukan kalsium yang cukup tapi juga protein. "Di dalam massa tulang juga terdapat protein yang khas yakni osteokalsin. Kekurangan protein juga menyebabkan tulang rapuh," katanya.

Kendati begitu protein yang diasup sebaiknya tidak lebih dari 10-15 persen dari total kalori. "Protein berlebih akan dikeluarkan dari tubuh dan ia akan menarik kalsium," katanya.

Sementara itu sumber kalsium yang paling baik menurut Fiastuti adalah susu karena lebih mudah diserap usus. Keperluan kalsium untuk orang dewasa per hari sebesar 1.000 mg. Kalsium juga terdapat pada sayuran hijau seperti brokoli dan buncis, juga buah jeruk, pisang, pepaya, kiwi, dan alpukat, juga ikan teri.

Untuk menjaga kepadatan tulang, latihan fisik yang benar, teratur dan terukur sangat penting. 'Dengan bergerak kita juga mendapat manfaat untuk otot karena otot menempel di tulang maka tulang pun ikut sehat," kata dr.Ade Tobing, Sp.KO.

Tekanan dan tarikan pada waktu kita berolahraga juga akan mengaktifkan osteoblas sehingga kepadatan tulang semakin baik. Makin aktif dan makin kita memperhatikan kesehatan tulang, makin tinggi puncak massa tulang yang dicapai.
loading...

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru di inbox anda:

Delivered by FeedBurner

Related Posts with Thumbnails