Informasi di blog ini hanyalah sekedar untuk tujuan informatif yang bersifat umum, Silahkan konsultasikan penyakit dan keluhan kesehatan Anda kepada ahlinya

KAPANKAH OPERASI KOLOSTOMI PERLU DILAKUKAN?

Anak kecil atau orang dewasa yang susah buang air besar (BAB) hingga berhari-hari, biasanya disarankan untuk melakukan kolostomi. Operasi kolostomi ini adalah pembuatan lubang buatan pada saluran pencernaan untuk membuang kotoran.

Seperti dikutip dari Pedisurg, Senin (10/5/2010) kolostomi untuk membuang kotoran BAB dilakukan pada penderita:

  1. Penyakit peradangan usus akut
    Terjadi karena kotoran menumpuk dan menyumbat usus di bagian bawah yang membuat tak bisa BAB. Penumpukan kotoran di usus besar ini akan membuat pembusukan yang akhirnya menjadi radang usus.

  2. Tidak memiliki anus (imperforata anus)
    Kelainan ini biasanya diketahui sejak lahir. Diduga karena terjadi infeksi saat ibu hamil yang membuat konstruksi usus ke anus tidak lengkap hingga atau karena kelainan genetik.

  3. Hirschsprung, yaitu kelainan bawaan sejak lahir karena kondisi saraf di usus besar yang tidak berfungsi normal. Akibatnya kotoran akan menumpuk di usus bawah karena fungsi saraf yang mendorong kotoran keluar tidak berjalan. Kondisi ini membuat penderitanya terutama bayi tidak bisa BAB selama berminggu-minggu yang akhirnya timbul radang usus. Bagian usus yang tak ada persarafannya ini harus dibuang lewat operasi.

Bayi yang tidak bisa BAB umumnya perutnya kembung. Bedanya hirschsprung dengan sembelit pada bayi adalah jika bayi sembelit ketika diberi obat pencahar kotoran bisa keluar. Tapi bayi yang menderita hisrchsprung tidak akan bereaksi apa-apa meski sudah diberi obat pencahar.

Kolostomi yang dilakukan bisa bersifat sementara hingga cedera atau sakit pada bagian usus besarnya sembuh dan istirahat dengan cukup.

Sedangkan kolostomi yang bersifat permanen yaitu jika jarak usus besar terlalu jauh, diblokir atau tidak bisa berfungsi dengan normal. Penderita kanker kolorektal identik dengan kolostomi permanen, tapi hanya sekitar 10-15 persen pasien saja yang memerlukan kolostomi.

Setelah prosedur kolostomi selesai dilakukan, maka sebuah plastik akan ditempatkan di perut pasien yang memiliki stoma (lubang buatan di perut) untuk menampung kotoran dari dalam usus.

Selama di rumah sakit, pasien akan diberitahu cara merawat kolostomi tersebut dan menentukan kapan kantung tersebut harus diganti serta posisinya.

Pasien juga harus memeriksa secara reguler dan perawatan menyeluruh pada kulit sekitar stoma agar dapat mempertahankan permukaan yang memadai dalam penempatan kantung.

Komplikasi yang terjadi selama pembedahan adalah:

  • Perdarahan berlebih
  • Infeksi luka bedah
  • Peradangan
  • Gumpalan darah di pembuluh darah kaki
  • Emboli paru.


Periode waktu yang dibutuhkan untuk proses pemulihan tergantung dari kesehatan pasien secara menyeluruh sebelum operasi. Selain itu komplikasi seperti pergerakan stoma di bawah permukaan perut atau penyempitan lubang stoma juga harus selalu dipantau.

Pasien yang hidup dengan kolostomi membutuhkan perawatan khusus untuk mengurusnya, mencegah infeksi dan komplikasi. Seperti dikutip dari eHow, Senin (10/5/2010) ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu pasien kolostomi menyesuaikan hal ini, yaitu:


  1. Meminta suster atau petugas kesehatan untuk menjelaskan mengenai segala hal terkait kantung untuk stoma, seperti dimana membelinya, prosedur pemakaiannya serta memahami bahasa yang tertera di kantung.
  2. Mengosongkan kantung kolostomi sebelum terlalu penuh, hal ini untuk menghindari kemungkinan meluap atau infeksi. Serta memperhatikan pembuangan limbah dari kantung di toilet.
  3. Mempraktikkan sendiri cara penggantian kantung kolostomi sendiri sebelum meninggalkan rumah sakit.
  4. Membilas stoma (kulit yang terbuka) secara lembut dengan air hangat sebelum menempelkan kantung yang baru. Jika memilih menggunakan sabun, maka pastikan bahwa sabun tersebut tidak diberi wewangian dan tanpa iritasi. Lalu keringkan secara pelan-pelan dengan handuk lembut.
  5. Menjaga daerah sekitar stoma (lubang buatan) agar tetap kering dan bersih.
  6. Memonitor letak stoma untuk mengetahui ada kebocoran atau perdarahan yang bisa menjadi tanda-tanda infeksi akibat pencemaran dari isi kantung.
  7. Menuliskan informasi atau instruksi mengenai kantung kolostomi sehingga dapat meringankan kecemasan pasien dalam mengurusnya sehari-hari.
  8. Mendiskusikan segala aspek mengenai emosional.

Hidup dengan kolostomi adalah sebuah perubahan yang besar, selain aspek medis maka aspek emosional yang terkait dengan kolostomi juga harus diperhatikan. Hal ini untuk membantunya menyesuaikan diri dan meningkatkan kepercayaan diri terkait penampilannya.



detik.com


Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Arsip

Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru di inbox anda:

Delivered by FeedBurner

Related Posts with Thumbnails